Menu

Dark Mode

Sakit ginjal akut

Testimoni Nyata di ICU: Kreatinin 7,1 Turun ke 0,9 Hanya 2 Hari — Kisah Medis yang Mengubah Nasib Ginjal dan Harapan Hidup

badge-check


					Testimoni Nyata di ICU: Kreatinin 7,1 Turun ke 0,9 Hanya 2 Hari — Kisah Medis yang Mengubah Nasib Ginjal dan Harapan Hidup Perbesar

Ketika Angka Kreatinin Tinggi Tidak Selalu Berarti Vonis Seumur Hidup

Di ruang ICU, angka sering kali berbicara lebih keras daripada kata-kata. Kreatinin 7,1 mg/dL biasanya membuat keluarga terpukul, membayangkan cuci darah, komplikasi, dan masa depan yang suram. Namun, sebuah kisah nyata dari bangsal ICU memperlihatkan sisi lain ilmu kedokteran: kerusakan ginjal akut tertentu dapat dibalikkan bila penyebabnya dikenali cepat dan ditangani tepat. Dalam dua hari, kreatinin seorang pasien turun drastis dari 7,1 menjadi 0,9—bukan karena “keajaiban”, melainkan karena sains dasar yang diterapkan dengan disiplin klinis.

Kisah ini dipaparkan dalam video edukatif ICU ward rounds oleh Dr. Shoeb Khan, Direktur Layanan Nefrologi & Transplantasi di SAP Kidney Center, bersama konsultan perawatan kritis. Video tersebut bukan sekadar testimoni; ia adalah pelajaran klinis yang menyelamatkan ginjal—bahkan nyawa—ketika Acute Kidney Injury (AKI) disebabkan oleh obstruksi aliran urine.

1. [Hindi (auto-generated)] Cre…


Kisah Nyata di ICU: Dari Anuria ke Aliran Harapan

Seorang pria lanjut usia datang dengan tidak bisa buang air kecil (anuria). Kreatinin awal 7,71 mg/dL. Panik? Wajar. Namun tim medis menahan diri dari kesimpulan prematur. Mereka bertanya sederhana tapi krusial: apakah urine tidak diproduksi, atau diproduksi tapi tidak bisa keluar?

Ultrasonografi menjadi kunci. Hasilnya mengejutkan: retensi urine signifikan (post-void residual ±575 mL), pembengkakan ginjal bilateral (hidronefrosis), dan tanda tekanan balik dari kandung kemih ke ginjal. Begitu kateter urine dipasang, ±1.500 mL urine keluar segera. Dua hari kemudian, kreatinin turun ke 0,9 mg/dL. Tidak ada “trik”, tidak ada ramuan rahasia—hanya ilmu dasar yang dieksekusi tepat waktu.

1. [Hindi (auto-generated)] Cre…


Memahami AKI: Bukan Satu Penyakit, Banyak Jalan Cerita

AKI adalah penurunan fungsi ginjal yang cepat. Pendekatan klasik membaginya menjadi tiga kelompok besar:

  1. Prerenal: masalah aliran darah ke ginjal (dehidrasi, syok).

  2. Intrinsik: kerusakan jaringan ginjal (glomerulus, tubulus).

  3. Postrenal (Obstruktif): hambatan aliran urine di bawah ginjal.

Kasus ini adalah AKI obstruktif—jenis yang paling mungkin pulih cepat bila hambatan dilepas. Di sinilah banyak pasien terlambat tertolong karena gejalanya “terlihat” sebagai gagal ginjal murni, padahal ginjalnya masih mampu memproduksi urine.


Obstructive AKI: Ilmu Dasar yang Menyelamatkan

Obstruksi bisa terjadi di beberapa titik:

  • Uretra: penyempitan (striktur).

  • Prostat (pada pria): pembesaran (prostatomegali).

  • Kandung kemih: disfungsi kontraksi (cystopathy).

  • Ureter: batu (calculi) atau massa.

Tekanan balik menyebabkan hidronefrosis, menurunkan filtrasi, dan menaikkan kreatinin. Lepas sumbatan → tekanan turun → filtrasi pulih. Pada banyak kasus, pemulihan bisa dramatis dan cepat.


Mengapa Ultrasonografi Sangat Penting?

Satu pesan kunci dari kasus ini: “Satu ultrasonografi dapat menyelamatkan ginjal dan nyawa.”
USG:

  • Non-invasif, cepat, dan tersedia luas.

  • Mengidentifikasi retensi urine, hidronefrosis, dan lokasi obstruksi.

  • Mengarahkan tindakan segera (kateterisasi, rujukan urologi).

Pada pasien dengan tidak keluar urine, USG harus menjadi pemeriksaan awal, bukan opsi terakhir.

1. [Hindi (auto-generated)] Cre…


Kateter Urine: Intervensi Sederhana, Dampak Besar

Dalam AKI obstruktif kandung kemih, kateter Foley sering menjadi penentu. Begitu aliran kembali, ginjal “bernapas lega”. Namun, pemantauan ketat diperlukan untuk mencegah:

  • Post-obstructive diuresis (keluaran urine berlebihan).

  • Ketidakseimbangan elektrolit.

  • Infeksi saluran kemih.


Diabetes dan Kandung Kemih: Hubungan yang Sering Terlewat

Pada penderita diabetes lama, neuropati dapat melemahkan kontraksi kandung kemih (diabetic cystopathy). Gejalanya fluktuatif: kadang lancar, kadang tertahan. Inilah mengapa riwayat diabetes harus memicu kewaspadaan terhadap retensi urine kronik.


Dari ICU ke Edukasi Publik: Bertanya yang Tepat Menyelamatkan

Kisah ini menegaskan pentingnya pertanyaan yang tepat dari pasien dan keluarga:

  • “Apakah urine diproduksi tapi tertahan?”

  • “Sudahkah dilakukan USG?”

  • “Apakah ada tanda obstruksi?”

Pertanyaan sederhana bisa mengubah arah terapi—dari pasrah ke pemulihan.


Membedakan AKI Obstruktif dan CKD

Tidak semua kreatinin tinggi sama. AKI obstruktif:

  • Onset relatif cepat.

  • Potensi pulih besar bila sumbatan dilepas dini.

CKD:

  • Progresif dan kronis.

  • Memerlukan strategi jangka panjang.

Kesalahan umum adalah menyamakan semua kreatinin tinggi sebagai CKD. Kasus ini membuktikan bahayanya asumsi tersebut.

Penyebab AKI Obstruktif (dibedakan dengan jelas)

1️⃣ Batu ginjal / batu saluran kemih

✔️ Bisa menyumbat ureter
✔️ Menyebabkan urine tidak mengalir
✔️ Menimbulkan hidronefrosis
✔️ Kreatinin bisa naik drastis

➡️ YA, ini sangat mungkin, tapi biasanya disertai nyeri hebat (kolik), mual, atau nyeri pinggang.


2️⃣ Pembesaran prostat (prostatomegali)

✔️ Sangat sering pada pria usia lanjut
✔️ Menyumbat aliran urine dari kandung kemih
✔️ Urine tertahan ratusan sampai ribuan ml
✔️ Kreatinin naik karena tekanan balik ke ginjal

➡️ Ini penyebab PALING SERING pada kasus seperti di video.


3️⃣ Disfungsi kandung kemih (diabetic cystopathy)

✔️ Umum pada penderita diabetes lama
✔️ Kandung kemih lemah, tidak bisa berkontraksi
✔️ Urine dibuat ginjal tapi tidak keluar
✔️ Kreatinin bisa melonjak cepat

➡️ Dokter dalam video justru sangat menekankan kemungkinan ini.


4️⃣ Striktur uretra (penyempitan saluran kencing)

✔️ Bisa akibat infeksi lama, trauma, atau tindakan medis
✔️ Aliran urine tersumbat total


Protokol Klinis Singkat yang Relevan

  1. Anamnesis fokus: volume urine, nyeri, LUTS, riwayat prostat/diabetes.

  2. Pemeriksaan fisik: distensi suprapubik.

  3. USG segera.

  4. Kateterisasi bila dicurigai retensi.

  5. Rujukan urologi (cystoscopy bila perlu).

  6. Monitoring elektrolit & diuresis.


Dampak Emosional: Dari Ketakutan ke Lega

Bagi keluarga, penurunan kreatinin dari 7,1 ke 0,9 dalam dua hari terasa seperti mukjizat. Bagi tim medis, itu adalah buah dari disiplin sains. Kombinasi keduanya membangun kepercayaan—bahwa ilmu yang benar, diterapkan tepat waktu, mampu mengubah takdir klinis.


Kesimpulan (Bahasa Sederhana)

Kreatinin tinggi tidak selalu berarti ginjal rusak permanen. Pada sebagian pasien, terutama yang tidak bisa buang air kecil, penyebabnya bisa sumbatan aliran urine. Dengan USG cepat dan tindakan sederhana seperti kateter, fungsi ginjal dapat pulih sangat cepat. Kisah nyata ini mengajarkan satu hal penting: jangan menunda pemeriksaan dasar.


Anjuran

✔️ Segera lakukan USG bila urine tidak keluar atau sangat sedikit
✔️ Laporkan riwayat LUTS, prostat, dan diabetes kepada dokter
✔️ Minta evaluasi obstruksi sebelum menyimpulkan gagal ginjal permanen
✔️ Pantau urine dan elektrolit setelah sumbatan dilepas
✔️ Ikuti rujukan urologi untuk mencari penyebab pasti

Yang Harus Dihindari

Menganggap semua kreatinin tinggi sebagai CKD
Menunda USG pada kondisi anuria/oliguria
Mengabaikan retensi urine pada lansia dan diabetesi
Kateter tanpa pemantauan pasca-tindakan
Panik tanpa evaluasi sistematis


Ringkasan

Artikel ini mengulas kisah nyata pemulihan dramatis fungsi ginjal di ICU, ketika kreatinin pasien turun dari 7,1 menjadi 0,9 mg/dL hanya dalam dua hari. Kunci keberhasilan bukanlah metode misterius, melainkan penerapan sains dasar dalam menangani Acute Kidney Injury (AKI) obstruktif. Pasien datang dengan anuria, dan evaluasi cepat melalui ultrasonografi mengungkap retensi urine signifikan serta hidronefrosis bilateral—tanda jelas adanya hambatan aliran urine. Tindakan kateterisasi segera melepaskan sumbatan, menghasilkan aliran urine besar dan pemulihan filtrasi ginjal yang cepat.

Pembahasan menekankan perbedaan penting antara AKI prerenal, intrinsik, dan postrenal, dengan fokus pada AKI obstruktif yang memiliki potensi pulih tinggi bila ditangani dini. Artikel juga menyoroti peran diabetes lama dalam menyebabkan disfungsi kandung kemih (diabetic cystopathy), yang sering terlewat dan memicu retensi urine kronik. Pesan utama yang ditegaskan adalah nilai USG sebagai pemeriksaan awal pada pasien dengan urine tidak keluar—sebuah langkah sederhana yang dapat menyelamatkan ginjal dan nyawa.

Selain aspek klinis, artikel mengajak pasien dan keluarga untuk mengajukan pertanyaan yang tepat dan tidak menyamakan semua kreatinin tinggi sebagai CKD. Dengan pendekatan sistematis—anamnesis fokus, USG cepat, pelepasan sumbatan, dan pemantauan ketat—hasil klinis dapat berubah drastis. Kisah ini menumbuhkan harapan realistis: ketepatan diagnosis dan kecepatan tindakan adalah penentu utama pemulihan ginjal pada AKI obstruktif.


Referensi

Jurnal Ilmiah (Bahasa Inggris):

Wikipedia (English):

Source: Authority:

  • SAP Kidney Center (Clinical Education & Nephrology Services)

YouTube (Edukasi Medis):

  • Creatinine 7.1 to 0.9 in 2 Days! Reversing Kidney Damage | Approach to Obstructive AKI Explained — ICU Ward Rounds (Dr. Shoeb Khan).

  • —————————————–

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Hidup Normal dengan Satu Ginjal — Rahasia Pola Makan yang Menyelamatkan Fungsi Ginjal Seumur Hidup

27 January 2026 - 02:18 WIB

Diet Nabati Mengubah Takdir Penyakit Ginjal — Pengakuan Dokter Ginjal dan Pasien yang Pulih Total

26 January 2026 - 04:17 WIB

Perubahan Pola Makan Nabati yang Mengubah Nasib Pasien Ginjal Kronis: Bukti Ilmiah, Testimoni Dramatis, dan Panduan Lengkap untuk Hidup Lebih Panjang

25 January 2026 - 07:36 WIB

Pria 69 Tahun Kronis Ginjal Stadium 3 Sembuh Total Hanya Dengan Diet Nabati! Kisah Nyata yang Mengubah Hidup Jutaan Penderita

25 January 2026 - 04:58 WIB

Diet Nabati Mampu Membalikkan Gagal Ginjal Stadium 3 – Fakta Ilmiah yang Mengubah Cara Dunia Memandang Penyakit Ginjal Kronis

25 January 2026 - 01:56 WIB

Trending on Ginjal