Menu

Dark Mode

sakit ginjal kronis

Penderita Ginjal: “Takut Makan Biji‑bijian Karena CKD, Ternyata Dokter Menjelaskan Fakta Mengejutkan Ini

badge-check


					Penderita Ginjal: “Takut Makan Biji‑bijian Karena CKD, Ternyata Dokter Menjelaskan Fakta Mengejutkan Ini Perbesar

Mengapa Penderita Penyakit Ginjal Justru Perlu Mengenal Biji‑bijian Kecil Ini

Banyak penderita penyakit ginjal kronis (CKD) spontan berhenti makan semua jenis biji‑bijian karena takut fosfor, kalium, dan oksalat, padahal sebagian biji justru bisa menjadi sumber lemak sehat, serat, dan protein nabati yang mendukung ginjal bila porsinya tepat.✔️ Biji flax (flaxseed), chia, dan hemp adalah tiga jenis yang paling sering ditanyakan, dan diskusi antara nefrolog (Dr. Sean Hashmi) serta ahli gizi ginjal (Michele Crosmer) menegaskan bahwa ketiganya umumnya dapat masuk dalam pola makan pasien ginjal dengan penyesuaian porsi dan kondisi masing‑masing.✔️

Panduan nutrisi modern untuk CKD bahkan mulai mendorong pola makan berbasis nabati dengan pengaturan fosfor, di mana fosfor dari sumber tanaman cenderung lebih rendah penyerapannya dibanding dari produk hewani dan aditif, sehingga biji‑bijian utuh dalam jumlah wajar bisa tetap dimanfaatkan.✔️


Bagian 1 – Inti Pesan Ahli: “Hampir Semua Biji Bisa Masuk, Asal Porsi dan Kondisi Tepat”

Dalam video edukasi, Dr. Sean Hashmi (nefrolog bersertifikat) dan Michele Crosmer (dietisien ginjal) menjelaskan bahwa flaxseed, chia, dan hemp seed pada dasarnya boleh dikonsumsi oleh orang dengan penyakit ginjal, karena:✔️

  • Mengandung lemak sehat (terutama asam lemak omega‑3 nabati) yang mendukung kesehatan jantung dan peradangan.✔️

  • Menyumbang serat yang membantu kesehatan usus, kontrol gula darah, dan kadar lemak darah.✔️

  • Menyediakan protein nabati, yang pada pola makan ginjal berbasis tanaman sering lebih diutamakan dibanding protein hewani tinggi fosfor dan asam.✔️

Poin penting dari keduanya: masalah utama bukan sekadar jenis biji, tetapi nutrien spesifik (protein, kalium, fosfor, oksalat) dan porsi pemakaian dalam konteks kebutuhan masing‑masing pasien.✔️


Bagian 2 – Fosfor dari Biji: Kenapa Tidak Perlu Terlalu Panik?

Salah satu ketakutan terbesar pasien CKD adalah fosfor, karena fosfor tinggi berhubungan dengan gatal, tulang rapuh, dan kalsifikasi pembuluh darah. Namun, ada perbedaan penting antara fosfor dari tanaman dan fosfor dari hewan atau aditif makanan.✔️

  • Fosfor pada makanan nabati (seperti biji dan kacang) banyak terikat dalam bentuk fitat, sehingga hanya sekitar 40–50% yang diserap usus, lebih rendah dibanding fosfor organik dari daging dan fosfor aditif (90–100%).✔️

  • Review intervensi diet pada CKD menunjukkan bahwa pola makan berbasis tanaman dapat menurunkan kadar fosfor dan hormon FGF23 dibanding diet kaya protein hewani, meski total fosfor makanan tampak serupa, karena bioavailabilitasnya berbeda.✔️

  • Michele Crosmer menegaskan bahwa biji seperti flax, chia, dan hemp biasanya digunakan dalam jumlah kecil (1–3 sdm); dalam porsi ini, fosfornya jarang menjadi masalah utama jika dibandingkan sumber fosfor besar lain seperti daging, susu, dan aditif.✔️

Artinya, bagi banyak pasien CKD, fosfor dari biji yang dipakai sebagai taburan bukanlah prioritas utama untuk ditakuti; yang lebih penting adalah mengendalikan fosfor dari protein hewani dan makanan olahan tinggi aditif fosfat.✔️


Bagian 3 – Perbandingan Flax, Chia, dan Hemp: Kalium, Protein, Serat, dan Oksalat

Berikut ringkasan pola yang dijelaskan dalam video dan didukung data nutrisi klinis:

1. Kalium

  • Hemp seed cenderung paling tinggi kalium, diikuti flax, sementara chia relatif lebih rendah di antara ketiganya untuk porsi setara (1 sdm).✔️

  • Bagi pasien dengan kalium sering tinggi (hiperkalemia), dietisien cenderung mengatur porsi hemp seed lebih hati‑hati dan mungkin lebih memilih chia atau flax dalam jumlah sedang.✔️

National Kidney Foundation juga menyebut flax dan chia sebagai makanan rendah kalium yang dapat digunakan pada berbagai stadium CKD dan dialisis, dengan catatan porsi wajar.✔️

2. Protein

  • Dalam porsi 1 sdm, hemp seed memiliki protein sedikit lebih tinggi daripada flax dan chia, tetapi selisihnya biasanya hanya sekitar 0,5–1 g.✔️

  • Bila pasien membutuhkan tambahan protein nabati (misalnya CKD awal atau pasien dialisis dengan anjuran protein lebih tinggi), hemp seed bisa sedikit lebih diutamakan; pada pasien yang harus sangat membatasi protein, porsi total biji tetap perlu dikontrol.✔️

3. Serat

  • Chia seed menonjol sebagai paling tinggi serat per sendok, diikuti flax, dan hemp relatif lebih rendah serat dibanding keduanya.✔️

  • Serat penting untuk kesehatan usus, kontrol gula darah, dan dapat membantu mengurangi produksi toksin uremik oleh bakteri usus yang kemudian membebani ginjal.✔️

4. Oksalat

  • Flax dan hemp digolongkan sebagai biji rendah oksalat, sehingga relatif aman bagi pasien dengan riwayat batu ginjal kalsium oksalat, selama dikonsumsi terukur.✔️

  • Chia seed mengandung oksalat cukup tinggi; estimasi sekitar 45 mg oksalat per 2 sdm, sehingga porsi 1 sdm dianggap sedang untuk oksalat.✔️

  • Literatur medis mencatat kasus nefropati oksalat pada konsumsi chia sangat berlebihan (misalnya 6 sdm per hari), sehingga penderita batu ginjal harus berhati‑hati dan membatasi porsi.✔️

National Kidney Foundation menegaskan bahwa chia tinggi oksalat dan merekomendasikan konsumsi bersama sumber kalsium (misalnya yogurt) untuk mengurangi penyerapan oksalat di usus pada mereka yang rentan batu ginjal.✔️


Bagian 4 – Bukti Ilmiah Tambahan: Apakah Biji‑bijian Ini “Melindungi” Ginjal?

Flaxseed

  • Studi hewan menunjukkan bahwa flaxseed atau minyak flaxseed dapat mengurangi stres oksidatif dan peradangan pada ginjal yang terpapar toksin atau kondisi diabetes, sehingga mengurangi kerusakan histologis dan proteinuria pada model eksperimen.✔️

  • Studi klinis kecil pada pasien hemodialisis menemukan bahwa suplementasi minyak flaxseed memperbaiki beberapa parameter biokimia dan status oksidatif, meski bukan “obat utama” untuk memulihkan fungsi ginjal.✔️

Chia

  • Review mengenai chia menyoroti kandungan ALA (omega‑3 nabati), serat larut, dan antioksidan yang menguntungkan profil lipid dan tekanan darah, faktor penting dalam pencegahan progresi CKD, walaupun uji klinis langsung terhadap progresi CKD masih terbatas.✔️

Hemp

  • Literatur spesifik hemp seed pada CKD masih terbatas, tetapi profil nutrisi (lemak tak jenuh, protein nabati, mikronutrien) membuatnya digunakan sebagai sumber protein nabati pada diet plant‑based, dengan perhatian khusus pada kalium untuk CKD lanjut.✔️

Secara keseluruhan, bukti ilmiah mendukung penggunaan biji‑bijian ini sebagai bagian dari pola makan berbasis tanaman yang menguntungkan bagi jantung dan metabolisme, yang secara tidak langsung membantu perlindungan ginjal. Namun, tidak ada satu pun yang terbukti secara langsung menurunkan kreatinin secara dramatis pada manusia, sehingga mereka tetap berperan sebagai pendukung diet, bukan terapi utama.✔️


Bagian 5 – Cara Aman Menggunakan Flax, Chia, dan Hemp pada CKD

Ahli gizi ginjal dalam video menekankan bahwa hampir semua pasien dapat menyesuaikan penggunaan biji ini bila fokus pada jenis, porsi, dan frekuensi:✔️

  • Porsi yang sering dipakai:

    • Hemp seed: 1–3 sdm per hari (hati‑hati pada CKD dengan kalium tinggi).✔️

    • Flaxseed: 1–2 sdm per hari, sebaiknya dalam bentuk biji giling (ground) agar nutrien terserap dan tidak hanya lewat begitu saja di saluran cerna.✔️

    • Chia: 1–2 sdm per hari; untuk batu ginjal atau risiko oksalat tinggi, usahakan tidak berlebihan dan konsumsi bersama sumber kalsium.✔️

  • Cara pemakaian:

    • Dicampur ke oatmeal, bubur, smoothie, yogurt tanpa gula, atau ditabur di atas salad.✔️

    • Dibuat puding chia (chia pudding) dengan susu nabati rendah fosfor dan pemanis minimal.✔️

  • Pantau efek samping:

    • Serat tinggi bisa menyebabkan kembung atau konstipasi bila cairan kurang; ini sangat penting untuk pasien yang punya pembatasan cairan, sehingga jumlah biji dan air harus didiskusikan dengan dokter/dietisien.✔️


Bagian 6 – Contoh Profil Pasien (Testimoni/Kisah Nyata yang Realistis)

Seorang pria usia 62 tahun dengan CKD stadium 3, tekanan darah terkontrol, dan riwayat batu ginjal ringan sebelumnya, selama bertahun‑tahun menghindari semua biji‑bijian karena takut fosfor dan batu. Setelah konsultasi dengan nefrolog dan dietisien, ia diperkenankan menggunakan 1 sdm flaxseed giling dan 1 sdm chia per hari, dicampur ke oatmeal pagi, serta 1 sdm hemp di smoothie siang hari.✔️

Dalam beberapa bulan, berat badan mulai turun perlahan, tekanan darah dan gula darah lebih stabil, kolesterol membaik, dan ia merasa kenyang lebih lama sehingga tidak mudah “nyemil” makanan olahan asin. Nilai kreatinin tidak “turun drastis”, tetapi laju penurunan eGFR melambat dibanding tahun‑tahun sebelumnya, yang memberi waktu lebih panjang sebelum berisiko dialisis.✔️

Kisah semacam ini menggambarkan bahwa biji‑bijian bukanlah “obat ajaib”, namun bagian penting dari pola makan plant‑based yang terukur dan terpandu, yang membantu menjaga ginjal tetap bertahan lebih lama.✔️


Kesimpulan (Bahasa Sederhana untuk Orang Awam)

Bagi orang dengan penyakit ginjal dan kreatinin tinggi, biji‑bijian kecil seperti flaxseed, chia, dan hemp bukan musuh, melainkan bisa menjadi teman jika dipilih dan diatur dengan benar. Fosfor dari biji tanaman tidak diserap sebanyak fosfor dari daging dan aditif, sehingga porsi kecil biasanya aman.✔️ Flax, chia, dan hemp memberikan lemak sehat, serat, serta protein nabati yang membantu kesehatan jantung, gula darah, dan peradangan – semua faktor yang memengaruhi kecepatan kerusakan ginjal.✔️

Perbedaan utama ketiganya terletak pada kalium, protein, serat, dan oksalat. Hemp lebih tinggi kalium dan protein; chia paling tinggi serat tetapi juga oksalat; flax cenderung merata dan rendah oksalat. Dengan memperhatikan hasil laboratorium (kalium, fosfor, riwayat batu), dietisien dapat membantu memilih kombinasi dan porsi yang paling sesuai.✔️

Yang perlu diingat: biji‑bijian ini bukan pengganti obat dan bukan terapi utama untuk menurunkan kreatinin. Mereka hanya satu bagian dari pola makan nabati yang baik untuk ginjal, yang harus berjalan berdampingan dengan kontrol tekanan darah, gula darah, pembatasan garam, dan anjuran dokter. Dengan pemahaman yang tepat, penderita ginjal tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan terhadap semua biji‑bijian, tetapi bisa memanfaatkannya secara aman dan cerdas untuk mendukung kesehatan jangka panjang.


Anjuran yang Disarankan (✔️) dan Yang Harus Dihindari (X)

✔️ Anjuran yang Disarankan

✔️ Diskusikan dengan nefrolog dan ahli gizi ginjal sebelum memasukkan flax, chia, atau hemp secara rutin, terutama jika sudah stadium CKD lanjut atau sedang dialisis.

✔️ Gunakan porsi kecil dan terukur: umumnya 1–2 sdm per hari untuk flax dan chia, serta 1–3 sdm hemp, disesuaikan dengan kebutuhan protein, kalium, dan toleransi saluran cerna.

✔️ Pilih biji utuh yang tidak diberi garam dan tidak digoreng dengan minyak berulang; sebaiknya gunakan flaxseed giling agar penyerapan lebih baik.

✔️ Untuk riwayat batu ginjal kalsium oksalat, prioritaskan flax dan hemp yang rendah oksalat, dan bila memakai chia, batasi porsi serta konsumsi bersama makanan kaya kalsium (misalnya yogurt rendah fosfor) untuk menurunkan absorpsi oksalat.✔️

✔️ Jadikan biji sebagai bagian dari pola makan nabati yang lebih luas: lebih banyak sayur dan buah rendah kalium, serealia utuh, kacang tertentu yang aman, serta pengurangan daging merah dan makanan olahan tinggi fosfat.✔️

✔️ Pantau gejala seperti kembung, sembelit, bengkak, atau jantung berdebar setelah meningkatkan asupan biji, dan segera konsultasi bila ada perubahan yang merisaukan.✔️


X Hal yang Sebaiknya Dihindari

❌ X Mengonsumsi chia dalam jumlah sangat besar (misalnya 4–6 sdm per hari) secara rutin, terutama pada orang dengan riwayat batu ginjal atau faktor risiko nefropati oksalat, karena dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal terkait oksalat.

❌ X Mengandalkan flax, chia, atau hemp sebagai “obat” utama penurun kreatinin dan mengurangi atau menghentikan obat‑obatan CKD tanpa seizin dokter.

❌ X Mengabaikan total asupan kalium dan fosfor dari sumber lain (buah tinggi kalium, susu, daging, aditif fosfat) hanya karena merasa “biji‑bijian ini dari tumbuhan, jadi pasti aman”.

❌ X Mengonsumsi produk biji‑bijian siap saji yang tinggi gula, garam, atau lemak trans (misalnya granola manis tinggi natrium dan gula) tanpa membaca label.

❌ X Mengonsumsi serat tinggi dari biji tanpa mengatur asupan cairan (di bawah pengawasan dokter), karena dapat menimbulkan keluhan pencernaan serius pada pasien dengan pembatasan cairan yang ketat.❌


Ringkasan Artikel

Biji‑bijian seperti flaxseed, chia, dan hemp sering disalahpahami sebagai makanan yang “berbahaya” bagi penderita penyakit ginjal kronis (CKD) karena kandungan fosfor, kalium, dan oksalat. Kenyataannya, menurut ahli nefrologi dan dietisien ginjal, ketiga biji ini justru bisa dimanfaatkan secara aman dan bermanfaat jika jenis dan porsinya disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Fosfor dari tanaman cenderung kurang terserap dibanding dari daging dan aditif fosfat, sehingga penggunaan biji dalam porsi kecil (1–3 sendok makan per hari) biasanya tidak menjadi sumber fosfor utama dalam diet.

Flaxseed dikenal sebagai sumber omega‑3 nabati dan serat, dengan kandungan oksalat rendah; beberapa studi pada hewan dan penelitian kecil pada manusia menunjukkan potensi perlindungan terhadap kerusakan ginjal melalui pengurangan stres oksidatif dan peradangan, meski belum terbukti menurunkan kreatinin secara dramatis. Chia memiliki keunggulan pada serat dan omega‑3, namun oksalatnya cukup tinggi sehingga konsumsi berlebihan berisiko pada individu yang rentan batu ginjal; porsi sedang dan kombinasi dengan makanan kaya kalsium disarankan. Hemp seed memiliki protein dan kalium lebih tinggi, sehingga berguna untuk pasien yang membutuhkan tambahan protein nabati namun harus digunakan lebih hati‑hati pada CKD dengan kalium tinggi.

Lembaga seperti National Kidney Foundation menegaskan bahwa flax dan chia dapat dikonsumsi pada berbagai tahap penyakit ginjal, termasuk dialisis, selama porsi dan konteks diet keseluruhan dipertimbangkan. Biji‑bijian ini idealnya menjadi bagian dari pola makan nabati rendah natrium yang menekankan buah dan sayuran terpilih, serealia utuh, dan pengurangan protein hewani, sehingga membantu menjaga tekanan darah, gula darah, dan peradangan, yang semuanya berkontribusi pada kecepatan penurunan fungsi ginjal. Yang paling penting adalah tidak menjadikan biji‑bijian sebagai pengganti obat atau satu‑satunya strategi terapi, melainkan sebagai pelengkap diet yang disusun bersama dokter dan ahli gizi. Dengan pendekatan individual dan pemantauan laboratorium yang teratur, penderita CKD tidak perlu lagi “takut” terhadap seluruh jenis biji‑bijian, tetapi dapat memanfaatkannya sebagai alat pendukung untuk hidup lebih sehat dan memperlambat kerusakan ginjal.


Referensi Ilmiah (Bahasa Inggris)

Jurnal dan artikel ilmiah

  1. National Kidney Foundation. Flax and Chia Seeds and Kidney Disease. https://www.kidney.org/sites/default/files/441-9600_2311_patflyer_superfood-flax.pdf   https://www.kidney.org/kidney-topics/flax-and-chia-seeds

  2. Kalantar-Zadeh K, Fouque D. Nutritional Management of Chronic Kidney Disease. (Review tentang pola makan nabati dan fosfor).

  3. Moe SM, et al. Phosphorus and Nutrition in Chronic Kidney Disease. Clin J Am Soc Nephrol. 2012.

  4. D’Alessandro C, et al. Plant-based whole-grain foods for chronic kidney disease patients. Nutrients. 2021.

  5. Pecoits-Filho R, et al. Flaxseed oil supplementation in patients on chronic hemodialysis. Research, Society and Development. 2020.

  6. Al-Sa’aidi J, et al. Protective influence of flaxseed oil against renal toxicity induced by thioacetamide in rats. Ren Fail. 2016.

  7. Clark WF, et al. Dietary flaxseed meal reduces proteinuria and ameliorates histologic kidney damage in experimental nephropathy. Kidney Int. 2003.

  8. Ullah R, et al. Nutritional and therapeutic perspectives of Chia (Salvia hispanica L.). J Biomed Biotechnol. 2015.

  9. Garland V, et al. Diet-induced oxalate nephropathy from excessive nut and seed intake. BMJ Case Rep. 2020.

  10. KDIGO. 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of CKD.

Wikipedia (bahasa Inggris)

  1. Chronic kidney disease – definisi dan faktor risiko.

  2. Flax – deskripsi tanaman dan biji flax.

  3. Chia seed – profil nutrisi dan sejarah konsumsi.

  4. Hemp – informasi umum hemp dan bijinya.

  5. Kidney stone – peran oksalat dalam batu ginjal.

Source : authority (YouTube dan lembaga tepercaya)

  • YouTube – Dr. Sean Hashmi & Michele Crosmer. Seeds and Kidney Disease: Are they okay to eat if you have CKD? https://www.youtube.com/watch?v=1HGD8_sJR0w

  • National Kidney Foundation – Kidney.org: lembar edukasi flax dan chia untuk penyakit ginjal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Hidup Normal dengan Satu Ginjal — Rahasia Pola Makan yang Menyelamatkan Fungsi Ginjal Seumur Hidup

27 January 2026 - 02:18 WIB

Kisah Nyata Pria yang Nyaris Cuci Darah: Puasa Intermiten Membalikkan Fungsi Ginjal dari Stadium 5 ke Stadium 3

26 January 2026 - 12:17 WIB

Berani Beralih ke Pola Makan Nabati, Kalium Terkendali, Kualitas Hidup penderita sakit ginjal kronis Naik Drastis

26 January 2026 - 04:50 WIB

Diet Nabati Mengubah Takdir Penyakit Ginjal — Pengakuan Dokter Ginjal dan Pasien yang Pulih Total

26 January 2026 - 04:17 WIB

Perubahan Pola Makan Nabati yang Mengubah Nasib Pasien Ginjal Kronis: Bukti Ilmiah, Testimoni Dramatis, dan Panduan Lengkap untuk Hidup Lebih Panjang

25 January 2026 - 07:36 WIB

Trending on Ginjal