Ketika Tubuh Berbalik Menjadi Musuh Paling Mematikan
Seorang wanita paruh baya datang ke klinik dengan keluhan aneh: sendi-sendi terasa terbakar, kulit sering muncul ruam merah, rambut rontok, perut bergolak tanpa alasan, dan rasa lelah seperti habis menempuh maraton setiap hari.

Dokter pertama berkata:
“Mungkin stres saja. Minum obat penenang.”
Dokter berikutnya melakukan pemeriksaan laboratorium dan berkata:
“Antibodi Anda belum tinggi. Kembali lagi saat Anda lebih sakit.”
Kalimat klasik yang dikritik keras oleh Dr. Robert Rountree, dokter senior Functional Medicine dan ahli imunologi klinis selama lebih dari 30 tahun:
“Come back when you’re sicker. We don’t care how you feel — we care when you meet the criteria.”
Ia mengecam sistem medis yang menunggu kerusakan menjadi parah sebelum bertindak.
Padahal, autoimun tidak muncul tiba-tiba. Ada proses panjang, perlahan, dan diam-diam. Banyak pasien tidak menyadari bahwa tubuh mereka telah “menyerang diri sendiri” selama bertahun-tahun, jauh sebelum hasil lab menjadi positif.
Bagian 1 – Mengapa Angka Penyakit Autoimun Meledak Dramatis?
Menurut Dr. Rountree:
-
80 juta orang Amerika kini menderita autoimun.
-
Jumlahnya melampaui kanker, diabetes, dan penyakit jantung jika digabungkan.
-
30% populasi sehat memiliki ANA positif (tanda autoimun).
Ia menambahkan bahwa di daerah pedalaman — hutan Ekuador, suku terpencil Venezuela — tidak ditemukan autoimun. Mengapa?
Mereka makan makanan asli, bergerak setiap hari, tanpa polusi modern, tanpa plastik, tanpa bahan kimia rumah tangga.
Artinya:
Autoimun adalah penyakit modern yang tercipta oleh kehidupan modern.
Bagian 2 – Kesalahan Fatal dalam Sistem Kedokteran: Fokus pada Gejala, Bukan Penyebab
Dr. Rountree menjelaskan kritik pedas:
“Obat modern hanya memberi nama pada gejala: rheumatoid arthritis, lupus, Hashimoto, Crohn’s. Tapi tidak memberi tahu mengapa itu terjadi.”
Selama ini, pengobatan hanya berfokus pada menekan sistem imun melalui:
-
steroid (prednisone)
-
methotrexate
-
TNF-alpha blockers
-
obat imunosupresif lain
Obat ini berguna dalam keadaan akut, tetapi:
❌ Tidak menyembuhkan akar masalah
❌ Memiliki efek samping serius
❌ Melemahkan kekebalan tubuh
❌ Membuka risiko infeksi berat
Dr. Rountree menyebut pendekatan lama ini sebagai:
“Diagnosis and adios.”
Artinya: dokter memberi nama penyakit, memberi obat, kemudian meninggalkan pasien tanpa memahami akar masalah.
Bagian 3 – 7 Pemicu Autoimun yang Jarang Dibahas Dokter Konvensional
Berikut pemicu yang DIJELASKAN langsung oleh Dr. Rountree dalam video:
1. Toksin lingkungan (immunotoxicity)
Termasuk:
-
pestisida
-
herbisida (termasuk glyphosate)
-
logam berat (merkuri, timbal, arsenik)
-
plastik & mikroplastik
-
VOC dari furnitur & rumah
-
asap rokok & polusi
Dr. Rountree menegaskan:
“Dosis kecil bisa memicu reaksi besar. Seperti alergi ikan — hanya mencium baunya saja bisa memicu anafilaksis.”
2. Mikroplastik & nanoplastik
Ditemukan dalam:
-
air minum botol
-
makanan organik yang terkontaminasi
-
udara rumah
Jumlah paparannya meningkat setiap tahun.
3. Infeksi kronis
Termasuk:
-
Epstein-Barr Virus (EBV)
-
Lyme disease
-
Chlamydia
-
Virus pasca COVID
Virus dapat memprogram ulang sel imun sehingga tubuh menyerang dirinya sendiri.
4. Kerusakan usus (leaky gut)
Konsep yang dulu ditertawakan, sekarang diakui dunia ilmiah.
Dinding usus hanya setebal 1 sel.
Jika rusak, protein asing, toksin, dan mikroba bocor ke aliran darah → memicu peradangan sistemik.
5. Ketidakseimbangan mikrobioma
Dr. Rountree menyebut penelitian suku pedalaman Venezuela:
“Mereka memiliki parasit, cacing, bakteri primitif—namun tidak autoimun. Artinya bukan mikroba yang memicu penyakit, tetapi kekurangan mikroba penting.”
6. Gluten sebagai pemicu utama
Gluten meningkatkan zonulin, membuka celah usus, dan menyebabkan reaksi silang ke jaringan lain seperti:
-
tiroid
-
sendi
-
usus
Banyak pasien Hashimoto & RA membaik drastis setelah menghindari gluten.
7. Stres berat & kurang tidur
Stres memicu pelepasan fragmen mitokondria ke darah.
Mitokondria berasal dari bakteri purba — tubuh menganggapnya “musuh”, memicu badai sitokin.
Bagian 4 – Bagaimana Autoimun Benar-Benar Dimulai? (Penjelasan Imunologi Praktis)
Ada dua bagian sistem imun:
-
Innate immune system (pertahanan pertama)
-
Adaptive immune system (pembentuk antibodi)
Obat modern hanya menyerang sistem imun adaptif.
Padahal akar masalah ada di innate immune system.
Dr. Rountree menjelaskan:
“Innate system adalah bagian yang pertama kali kontak dengan dunia luar—makanan, udara, toksin, mikroba. Di sinilah autoimun dimulai.”
Jika innate terganggu, maka adaptive akan salah target dan menyerang tubuh sendiri.
Bagian 5 – Testimoni Mengguncang: “Saya Hampir Kehilangan Usus Besar, Sekarang Sembuh Total”
Contoh dramatis yang disampaikan dalam diskusi video:
1. [English (auto-generated)] A…
Seorang pasien dengan ulcerative colitis berat:
-
BAB berdarah 20 kali sehari
-
kehilangan 14 kg
-
dokter ingin mengangkat usus besar
-
steroid 60 mg tidak membantu
Ia akhirnya menjalani pendekatan fungsional:
-
nutrisi intravena
-
vitamin C dosis tinggi
-
ozone therapy
-
hyperbaric oxygen therapy
HASILNYA:
-
dalam beberapa hari peradangan mereda
-
gejala hilang total
-
usus sembuh
-
terapi obat dihentikan
-
kualitas hidup kembali
Bagian 6 – Mengapa Banyak Dokter Tidak Menjelaskan Ini?
Menurut Dr. Rountree:
-
pendekatan tradisional dibangun untuk “mengelola penyakit”, bukan mencari akar masalah
-
kurikulum medis tidak mempelajari imunologi lingkungan
-
laboratorium hanya menguji antibodi, bukan pemicu
-
industri farmasi berfokus pada obat jangka panjang
Padahal sistem kekebalan bekerja seperti persamaan sederhana:
Toksin + Mikroba + Gluten + Stres + Genetik = Aktivasi Autoimun
Jika menghilangkan pemicu, antibodi dapat menurun.
Bagian 7 – Protokol Pemulihan Autoimun Menurut Dr. Rountree
Protokol ini berbasis sains dan pengalaman klinis 30+ tahun.
✔️ 1. Menghilangkan pemicu utama
-
berhenti gluten
-
berhenti susu sapi
-
kurangi gula
-
kurangi makanan olahan
-
hindari minyak nabati inflamasi
✔️ 2. Detoksifikasi lingkungan
-
filter air
-
filter udara HEPA
-
hindari plastik
-
bersihkan jamur rumah
-
hindari pestisida & pewangi sintetis
✔️ 3. Memperbaiki usus (Gut Repair)
Strategi:
-
probiotik
-
L-glutamine
-
zinc carnosine
-
aloe vera
-
kolagen
-
prebiotik alami (bawang, daun bawang, pisang muda)
✔️ 4. Mengelola stres & memperbaiki tidur
-
meditasi 10 menit
-
pernapasan dalam
-
tidur 7–9 jam
-
kurangi paparan layar malam
✔️ 5. Optimasi nutrisi
Bukti ilmiah mendukung:
-
Vitamin D
-
Zinc
-
Selenium
-
Omega-3
-
Vitamin A
-
Vitamin C
✔️ 6. Identifikasi infeksi laten
Terutama:
-
EBV
-
Lyme
-
Chlamydia
-
Helicobacter pylori
✔️ 7. Perbaiki mikrobioma
Dengan:
-
makanan fermentasi
-
serat larut
-
sayuran warna-warni
❌ Hal yang Harus Dihindari (Tandai X Merah)
❌ X Rokok & Vape
“Pemicu terbesar rheumatoid arthritis.” – Dr. Rountree
❌ X Gluten
Meningkatkan zonulin dan membuka celah usus.
❌ X Gula berlebihan
Memicu inflamasi sistemik.
❌ X Polusi dalam ruangan
Bahan kimia dari sofa, karpet, cat, furnitur.
❌ X Antibiotik jangka panjang tanpa indikasi kuat
Merusak mikrobioma permanen.
❌ X Stres kronis
Memicu pelepasan toksin dari mitokondria.
❌ X Kurang tidur
Mengacaukan regulasi hormon imun.
KESIMPULAN
Autoimun bukanlah penyakit yang “tiba-tiba datang”. Penyakit ini dimulai ketika sistem imun kita bingung membedakan antara musuh dan tubuh sendiri. Kebingungan ini dipicu oleh kombinasi toksin, gluten, kerusakan usus, mikroplastik, infeksi kronis, stres, dan kurang tidur.
Kabar baiknya: banyak kasus autoimun bisa membaik secara signifikan, bahkan masuk ke remisi, jika pemicunya dihilangkan. Tubuh memiliki kemampuan untuk pulih ketika lingkungan internal diperbaiki. Pengobatan modern diperlukan pada kondisi akut, tetapi akar masalah tetap harus ditangani.
Ringkasan Singkat
Autoimun kini menjadi epidemi global, menyerang lebih banyak orang dibandingkan kanker, diabetes, atau penyakit jantung. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun menyerang tubuh sendiri akibat kebingungan yang dipicu oleh toksin lingkungan, polusi, mikroplastik, gluten, infeksi kronis, stres berat, dan kerusakan usus. Dr. Robert Rountree menyatakan bahwa pendekatan medis konvensional sering hanya fokus pada gejala, bukan akar masalah, sehingga pasien dibiarkan menggunakan obat imunosupresif seumur hidup tanpa penyembuhan.
Faktanya, 30% populasi memiliki tanda awal autoimun (ANA positif) tanpa diagnosa resmi, karena dokter menunggu kondisi memburuk sebelum memulai pengobatan. Di sisi lain, suku pedalaman yang hidup alami tanpa polusi modern nyaris tidak memiliki autoimun, menunjukkan betapa gaya hidup dan lingkungan sangat berpengaruh. Kerusakan usus (leaky gut) menjadi pusat masalah, memungkinkan toksin dan protein asing masuk ke darah memicu inflamasi sistemik. Gluten, pestisida, logam berat, dan mikroplastik memperparah kondisi.
Namun, ada harapan besar. Banyak pasien pulih melalui pendekatan fungsional: menghilangkan gluten, detoksifikasi lingkungan, memperbaiki usus dengan probiotik dan nutrisi kunci, memperkuat mikrobioma, menangani infeksi laten, dan mengelola stres serta tidur. Kasus dramatis dalam video menunjukkan pasien colitis yang hampir kehilangan usus besar pulih total melalui pendekatan root-cause. Dengan protokol terpadu, banyak penyakit autoimun dapat stabil atau masuk remisi.
Autoimun bukan hukuman seumur hidup. Dengan memahami pemicu, memperbaiki pola makan, gaya hidup, dan lingkungan, tubuh bisa kembali pulih.
Daftar Referensi
Jurnal Ilmiah (English)
-
Fasano, A. “Zonulin and Its Regulation of Intestinal Barrier Function.” Physiological Reviews.
https://journals.physiology.org/doi/full/10.1152/physrev.00003.2012 -
Lerner A, Matthias T. “Environmental Science of Autoimmunity.” Autoimmunity Reviews.
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1568997218300410 -
Rose NR. “Predictors of Autoimmune Disease.” NEJM.
https://www.nejm.org -
Marí, M. et al. “Mitochondrial Damage & Inflammation.” Cell.
https://www.cell.com
Wikipedia (English)
-
Autoimmune disease
https://en.wikipedia.org/wiki/Autoimmune_disease -
Leaky gut
https://en.wikipedia.org/wiki/Intestinal_permeability -
Microplastics
https://en.wikipedia.org/wiki/Microplastics
Source: Authority
-
Dr. Robert Rountree – Immunology & Functional Medicine Expert
YouTube:
https://www.youtube.com/watch?v=arjjLINfrlk -
IFM Institute – Functional Medicine Immunology
https://www.ifm.org -
Harvard Medical School – Microbiome & Autoimmune Disease
https://hms.harvard.edu









